Oleh: awansenja | Oktober 7, 2007

Komunitas Awan Senja Diskusi Teknik Menulis Esai

SETIDAKNYA ada tiga hal yang harus diperhatikan seorang penulis ketika ingin membuat tulisan yang baik antara lain sistematis, fokus, serta pembukaan yang menarik dan langsung ke pokok masalah.
Udo Z Karzi mengatakan hal itu dalam diskusi Komunitas Awan Senja di Aula Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kumai , kemarin.
“Tulisan yang sistematis akan mudah diikuti, mudah dipahami, dan sampai tujuan yang hendak dicapai dari tulisan itu,” katanya.
Fokus, kata dia, artinya tidak keluar dari masalah utama dan hanya fokus pada satu masalah.
Sedangkan untuk membuat pembukaan (lead) yang menarik dapat dimulai dengan berbagai cara, seperti deskripsi, narasi, kutipan, pertanyaan, dan sapaan akrab.
Dalam kesempatan itu, dia juga memperkenalkan berbagai jenis tulisan jurnalistik.
Secara garis besar, tulisan jurnalistik terbagi menjadi dua macam yakni berita (news) dan opini.
Adapun berita terbagi lagi menjadi beberapa jenis yakni berita langsung (straight news), berita mendalam (indept news), dan feature.
Sedangkan opini terdiri dari artikel, tajuk rencana, kolom, pojok, dan surat pembaca.
Dia menjelaskan ada perbedaan mendasar antara berita dan opini.
Jika dalam opini si penulis bebas memasukkan pendapat pribadi, maka pada berita justru sebaliknya.
Si penulis tidak boleh memasukkan pendapat pribadi dan hanya melaporkan fakta yang terjadi.
Dia juga menambahkan seorang penulis yang baik harus rajin membaca untuk menambah perbendaharaan kosakata. (AS/B-3)

Dari Borneonews, Rabu, 3 Oktober 2007

Oleh: awansenja | Oktober 7, 2007

Cerpen yang Baik Mampu Bangun Konflik

KUMAI (Borneonews): Penulis cerita pendek (cerpen) yang baik harus mampu membangun konflik. Konflik yang dibangun sebaiknya dimulai sejak awal cerita, klimaks, antiklimaks, hingga berakhir dengan sebuah impresi.
Sastrawan Udo Z Karzi menjelaskan, salah satu kelemahan dalam penulisan cerpen adalah mengolah konflik untuk menimbulkan ketegangan-ketegangan (suspence) dalam cerpen.
“Konflik yang lemah membuat cerita menjadi hambar karena gampang sekali diselesaikan,” ujarnya dalam diskusi Penulisan Cerpen Komunitas Awan Senja di Aula MTsN Kumai, kemarin.
Udo menyontohkan cerpen  ‘Jatuh Cinta Sejak Pandangan Pertama’ karya Eka Rahmawati.
Dari alur cerita, terlihat penulis belum mampu membangun konflik antar tokoh dalam cerpen tersebut.
Bahkan, memasukkan tokoh- tokoh yang justru membuat alur cerita menjadi tidak fokus.
Begitu juga pada akhir cerita yang tidak memiliki nilai tambah dan kesan bagi para pembaca.
Padahal, pada awal cerita sudah memiliki daya pikat yang menarik.
Padahal, dari segi ide, cerita yang ditampilkan memiliki potensi konflik yang kalau ‘dimasak’ dengan dapat memikat dan menambah bobot cerita.
Namun, karena kurangnya daya kreativitas dari si penulis menyebabkan cerpen tersebut menjadi cerita biasa yang miskin konflik.
Dia menambahkan, selain kreativitas para penulis cerpen perlu memperhatikan tata bahasa dan  Ejaan Yang Disempurnakan (EDY).
Termasuk, juga dalam memadukan kalimat pengarang (kalimat tidak langsung) dan dialog peran (kalimat langsung) secara harmonis dalam cerpen.
Secara umum, Udo menilai Eka sebenarnya mempunyai kemampuan menjalin cerita yang harusnya menarik.
“Cerpen ini akan menjadi lebih baik bila Eka mau berupaya  memperbaiki sedikit kelemahan-kelemahan tadi,” ujarnya. (AS/B-3)

Dari Borneonews, Rabu, 26 September 2007

Oleh: awansenja | Oktober 7, 2007

Siswa Kumai Bentuk Komunitas Awan Senja

PANGKALAN BUN (Borneonews): Komunitas sastra di kalangan pelajar Kumai sudah terbentuk, Selasa, 31 Juli 2007. Tidak kurang dari 50 siswa menyetujui memberi nama Komunitas Awan Senja.
Willi Edi, salah satu guru di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kumai yang menggerakkan pelajar tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kumai mengatakan pembentukan komunitas itu berangkat dari kurangnya kegiatan sastra di kalangan pelajar.
Ia mengajak pelajar melalui pamflet dan undangan untuk mengikuti pelatihan kepenulisan.
“Saya berharap pertemuan seperti ini bisa berlangsung kontinyu,” kaya Willy.
Seorang siswa dari SMP PGRI 2 Kumai mengaku mengikuti kegiatan tersebut karena ditunjuk oleh gurunya. Namun ia mengaku menyukai dunia sastra, khususnya penulisan puisi.
Dua siswa dari SMPN 1 Kumai Meka dan Wisna berharap dengan kegiatan tersebut terus dilanjutkan.
“Wah, mau banget kalau ada pelatihan seperti itu,” kata Meka dan Wisna.
Kedua pelajar tersebut juga sama-sama menyukai puisi.
Dalam pertemuanitu, M Azhari dari SMAN 1 Kumai terpilih sebagai ketua dengan sekretaris Desi dan bendahara Masna.
Pertemuan itu juga sepakat untuk melakukan pertemuan satu sekali dalam seminggu.
Sastrawan yang juga wartawan Borneonews Udo Z Karzi yang hadir dalam acara ini mengatakan, sangat mendukung dan sepakat untuk berkumpul dan bereksplorasi tentang sastra dan kepenulisan dalam komunitas tersebut.
Komunitas akan kembali bertemu di SMPN 1 Kumai Selasa (7/8) dengan pembahasan tentang sastra secara umum. (ET/B-4)

Dari Borneonews, Rabu, 1 Agustus 2007

Kategori